Cerita di Balik Megahnya Masjid Emas Aceh, Mimpi Terpendam Sang Saudagar Terwujud Setelah 20 Tahun

– Masjid megah yang berada di Desa Lamseupeng, Banda Aceh atau lebih dikenal dengan sebutan Masjid Haji Keuchik Leumiek (HKL) memiliki sejarah panjang meskipun proses pembangunannya cukup cepat terlaksana yakni 2,4 tahun. Masjid Emas Aceh, yakni sebutan masyarakat untuk Masjid HKL, merupakan satu diantara situs yang banyak dikunjungi warga, baik dari dalam negeri maupun luar negeri sekalipun. Namun, siapa sangka bahwa masjid yang bernuansa Timur Tengah dan bergaya Spanyol ini merupakan impian seorang Alm Haji Harun selama 20 tahun lamanya.

Pada Serambinews.com, cucu Alm Haji Harun yang bernama M Zawir Ghivari serta pengurus Masjid HKL Ustadz Jumaris dan didampingi putra Alm Haji Harun yakni M Kamaruzzaman HKL pada Minggu (11/4/2021) menceritakan awal mula dan alasan dari Alm Haji Harun membangun masjid sampai kegiatan dilaksanakan di masjid setiap hari. Zawir mengulas balik kisah kakeknya, H Harun membangun masjid, menyebut keinginan tersebut telah lama dipendam oleh sang kakek, namun bisa terwujud pada tahun 2019 sialm. Impian ini diwujudkan setelah kakeknya tanpa sengaja terpikir membuat masjid pada lahan kosong peninggalan Ayahanda H Harun yakni Haji Keuchik Leumik.

“Keinginan kakek membangun masjid dipendam selama 20 tahun, masjid urung dibangun karena terkendala lahan, namun pada suatu sore kakek terinspirasi pada lahan kosong ketika duduk menunggu adzan Magrib di Balai Pengajian Haji Keuchik Leumiek,” ulas Zawir pada Serambi. Membangun sebuah masjid di Desa Lamseupeung adalah keinginan pria kelahiran 19 September 1942, lahir dari keluarga bangsawan tidak membuat dirinya merasa lupa dengan akhirat sehingga niat dan impian membangun masjid tertanam di dalam hati Haji Harun sampai 20 tahun lamanya. Kendala utama Haji Harun membangun masjid karena kurangnya lahan, sehingga beliau membutuhkan waktu 20 tahun lebih untuk mewujdukan keinginan membangun Rumah Allah di tanah kelahiran, yakni Lamseupeung.

Suatu sore, saat sedang bersantai menunggu adzan shalat Magrib, Haji Harun berada di Balai Pengajian Haji Keuchik Leumiek. Balai pengajian tersebut dibangun pada tahun 2005 berlokasi di Lamseupeng yang tidak jauh dari lokasi masjid saat ini, Haji Harun duduk di tangga balai pengajian dan tidak sengaja matanya melihat ke arah lahan kosong seluas 2.500 meter. Bak dapat inspirasi, Haji Harun langsung terpikir untuk membangun masjid di lahan kosong peninggalan orang tuanya tersebut, karena areal cukup luas dan tidak jauh dari Krueng Aceh. Sebenarnya lahan kosong yang menjadi lokasi masjid saat ini setiap hari dilihat Haji Harun, namun tidak terpikir untuk membangun masjid di tanah kosong itu.

Setelah terinspirasi membangun masjid pada lahan kosong yang dilihat saat sedang duduk di tangga balai pengajian, malamnya Haji Harun langsung menyampaikan keinginan hati kepada Istri (Ibu Salbiah). Istri Haji Harun merespon baik dan memberikan dukungan penuh. Haji Harun juga turut menanyakan pendapat putra beliau yakni M Kamaruzzaman mengenai keinginan membangun masjid.

Haji Harun menyampaikan keinginan dan berdiskusi panjang, sehingga ananda M Kamaruzzaman mendukung penuh keinginan ayahanda untuk membangun sebuah Rumah Allah di Desa Lamseupeung, namun dengan empat syarat. Empat Syarat untuk membangun masjid yakni : Bangun masjid sebagus mungkin;

Biaya pembangunan masjid murni dari keluarga, atau tidak menerima bantuan sampai masjid selesai; Nama masjid yang dibangun diberikan nama Haji Keuchik Leumiek yakni ayahanda H Harun atau Jangan memberitahu siapapun mengenai biaya pembangunan masjid.

Setelah mendapatkan persetujuan dari keluarga, pada 19 Juli 2016 maka dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Haji Keuchik Leumiek, pada waktu itu dilakukan oleh Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’duddin Djamal, Imam Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh Prof Dr H Azman Ismail, perangkat desa Lamseupeung dan keluarga Haji Harun. Pada 28 Januari 2019, Masjid Haji Keuchik Leumiek diresmikan oleh Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah. Pengerjaan yang tergolong cepat, dengan para pekerja dari Aceh sampai didatangkan dari Sumatera Utara dan Pulau Jawa, memakan durasi 2,4 tahun dan desain masjid murni dari hasil diskusi H Harun dengan putera beliau M Kamaruzzaman.

Kegiatan di masjid Haji Keuchik Leumiek sama seperti kegiatan masjid lain pada umumnya, yakni melaksanakan shalat berjamaah lima waktu. Selain itu, Masjid HKL juga melaksanakan pengajian rutin pada Kamis malam dan Sabtu Malam. Pengajian diisi oleh dua ulama Aceh yakni Ustadz Masrul Aidi dan Tengku Asnawi Ulee Titi. Selain pengajian, Masjid HKL juga melakukan dzikir bersama pada Jumat malam setiap awal bulan. “Kegiatan di Masjid HKL selain melaksanakan shalat lima waktu berjamaah, ada juga melaksanakan pengajian rutin, pengajian di Masjid HKL diikuti oleh warga yang berasal dari Banda Aceh Aceh Besar dan wilayah sekitarnya,” kata Ustadz Jumarin pada Serambi.

Beberapa kegiatan di Masjid HKL : Shalat Lima Waktu Pengajian Malam (Kamis malam dan Sabtu malam)

Dzikir (Setiap Jumat malam setiap awal bulan) Shalat Tarawih Tadarus

Jamaah Masjid HKL berasal dari berbagai tempat, baik dari Banda Aceh Aceh Besar maupun dari luar daerah. Bahkan ada jamaah datang dari luar Aceh hanya untuk melihat kemegahan Masjid HKL. Masjid HKL memiliki daya tarik, sering diidentikkan sebagai Masjid Emas karena hampir keseluruhan masjid berwarna kuning keemasan, sehingga masjid ini sering disebut Masjid Emas Aceh.

“Alhamdulillah pada akhir pekan Masjid HKL sering kedatangan tamu dari luar Aceh, mereka sengaja datang untuk melihat keindahan masjid dan ada yang datang untuk melepaskan nazar shalat sunnah,” tutup Ustadz Jumaris. (*) Punya pertanyaan seputar zakat , infaq dan sedekah ? Anda dapat bertanya dan berkonsultasi langsung ke Konsultasi Zakat yang langsung dijawab Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) Kirim pertanyaan Anda ke

Leave a Reply

Your email address will not be published.